5 Des 2012

- Filsafat -



A.   Landasan Filosofis Pendidikan
Sebagaimana yang telah dijelaskan pada bagian pendahuluan bahwa salah satu landasan dalam pengembangan kurikulum adalah landasan filosofis. Filsafat memegang peranan yang penting dalam kurikulum sama halnya dengan filsafat pendidikan . Kita dikenalkan pada berbagai aliran filsafat, seperti Perenialisme, Esensialisme, Eksistensialisme, Idealisme, Progresivisme dan Rekonstruksisisme dan lain-lain. Dalam pengembangan kurikulum kita senantiasa berpijak pada aliran-aliran tertentu, sehingga akan mewarnai terhadap konsep dan implementasi kurikulum yang dikembangkan.


Menurut Brubactus ( Uyoh Sadulloh,2006,96 ) mengelompokkan filsafat pendidikan pada dua kelompok besar yaitu filsafat pendidikan “progresif” dan filsafat pendidikan “konserfatif”, yang pertama didukung oleh filsafat Fragmatisme dari John Dewey dan Romantik Naturalisme dari Roosseau yang kedua didasari oleh filsafat Idealisme Religius. Filsafat-filsafat tersebut melahirkan filsafat pendidikan Esensialisme, Perenialisme dan sebagainya.Akan dibahas beberapa filsafat pendidikan yaitu :

1. Idealisme Filsafat ini lebih menekankan bahwa manusia adalah jiwanya, rohanianya yakni apa yang disebut “Mind”. Mind merupakan suatu wujud yang mampu menyadari dunianya bahkan sebagai pendorong dan penggerak semua tingkah laku manusia. Jiwa (mind) merupakan faktor utama manusia yang menghasilkan semua aktifitas manusia, badan atau jasmani tanpa jiwa tidak akan memiliki apa-apa.Pandangan tentang pengetahuan mengatakan bahwa pengetahuan yang diperoleh melalui indera tidak pasti dan tidak lengkap, karena dunia hanyalah merupakan tipuan belaka, sifatnya maya (bayangan) yang menyimpang dari kenyataan yang sebenarnya. Teori pengetahuan Idealisme adalah rasionalisme yang mengemukakan bahwa indera kita hanya memberikan materi mentah bagi pengetahuan. Pengetahuan tidak ditemukan berdasarkan indera, melainkan konsepsi dalam prinsip-prinsip sebagai hasil aktifitas jiwa. Indera dapat menipu manusia yang berpikir tidak sesuai antara pengamatan dilapangan dengan kenyataan , apalagi pengamatan indera bisa dipengaruhi oleh ilusi, halusinasi dan fantasi.
Pandangan tentang pendidikan adalah pendidikan harus menekankan kesesuaian batin antara manusia dan alam semesta “ it must emphasize the innate harmony between man and universe ( Kneller, 1971,9) “. Selanjutnya Horne mengatakan pendidikan merupakan proses abadi dan proses penyesuaian dari perkembangan mental maupun fisik, bebas dan sadar terhadap Tuhan, dimanifestasikan dalam lingkungan intelektual, emosional dan berkemauan, pendidikan merupakan pertumbuhan ke arah tujuan yaitu pribadi yang ideal. Menurut Power ( Uyoh Sadullah, 2007 : 102-103 ) implikasi filsafat pendidikan Idealisme sebagai berikut :
1. Tujuan Pendidikan; Pendidikan formal dan informal bertujuan membentuk karakter dan mengembangkan bakat atau kemampuan serta kebaikan sosial.
2. Kedudukan Siswa; Bebas untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan dasarnya/bakatnya.
3. Peran Guru; Bekerjasama dengan alam dalam proses pengembangan manusia terutama bertanggung jawab dalam lingkungan pendidikan siswa.
4. Kurikuler; Pendidikan liberal untuk kemampuan rasial dan pendidikan praktis untuk memperoleh pekerjaan.
5. Metode; Diutamakan metode dialektikal, tetapi metode lain yang efektif dapat dimanfaatkan.
2. Realisme
Filsafat ini memandang realitas secara dualistik. Realisme berpendapat bahwa hakekat relitas adalah dunia fisik dan dunia rokhani. Pandangannya tentang pengetahuan bahwa dunia yang kita amati bukan hasil akal atau jiwa (mind) manusia, melainkan dunia sebagaimana adanya subtansialistis, sebab akibat, dan aturan-aturan alam bukan suatu proyeksi akal atau jiwa manusia melainkan merupakan suatu penampilan atau alam itu sendiri. Selanjutnya menurut realisme natural ilmiah bahwa pengetahuan yang sahih adalah pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman empiris, dengan jalan observasi atau penginderaan yang dikenal dengan teori pengetahuan “emphirisme”. Menurut emphirisme pengalaman merupakan faktor fundamental dalam pengetahuan, sehingga merupakan sumber dari pengetahuan manusia.
Mengenai konsep pendidikan Relisme Natural Brubacher (1950) mengemukakan bahwa pendidikan berkaitan dengan dunia di sini dan sekarang. Dunia bukan sesuatu yang eksternal, tidak abadi , melainkan hukum alam. Jiwa (mind) merupakan produk alam dan bersifat biologis, berkembang dengan cara menyesuaikan diri dengan alam. Pendidikan menurut realisme natural haruslah ilmiah dan yang menjadi obyek penelitiannya adalah obyek dalam alam.
Menurut Power ( Uyoh Sadulloh, 2006 : 112 ) mengemukakan implikasi pendidikan Realisme sebagai berkut :
1. Tujuan Pendidikan; Penyesuaian hidup dan tanggung jawab sosial.
2. Kedudukan Siswa; Dalam hal pelajaran, penguasan pengetahuan yang handal dapat dipercaya. Dalam hal disiplin peraturan yang baik adalah essensi untuk belajar. Disiplin mental dan moral diperlukan untuk memperoleh pembelajaran.
3. Peranan Guru; Menguasai pengetahuan, terampil dan teknik mengajar dand dengan keras menuntut prestasi dari siswa.
4. Kurikulum; Kurikulum Komprehensif mengcakup semua pengetahuan yang berguna. Berisikan pengetahuan liberal dan pengetahuan praktis.
5. Metode; Belajar bergantung pada pengetahuan baik langsung maupun tidak langsung. Metode penyampaian harus logis dan psikologis. Metode Conditioning (SR) merupakan metode utama bagi Realisme sebagai pengikut Behaviorisme.
3. Materialisme
Filsafat ini memandang bahwa hakekat Realisme adalah materi, buku rohani bukan spiritual atau supranatural. Landasan dalam berpikir adalah “Positivisme”. Menurut Positivisme kalau sesuatu itu memang ada, maka adanya itu adalah jumlahnya. Jumlah itu dapat diukur, oleh karena itu segala yang ada dapat diamati dan diukur. Sebaliknya segala yang tidak dapat diamati dan diukur secara ilmiah berarti tidak dapat dipelajari secara positif. Menurut Tohmas Hobbes yang dikutip oleh ( Hasan hadiwijono, 1980) sebagai pengikut Emphirisme Materialistik. Ia berpendapat bahwa pengalaman merupakan awal dari segala pengetahuan, juga awal pengetahuan tentang asas-asas yang diperoleh dan dilakukan oleh pengalaman. Hanya pengalamanlah yang memberikan kepastian pengetahuan melalui akal hanya memiliki fungsi mekanis semata, sebab pengenalan dengan akal mewujudkan suatu proses belajar. Merupakan proses kondisionisasi lingkungan. Menurutnya perilaku manusia adalah hasil pembentukan melalui lingkungan. Implikasi bahwa proses pendidikan (proses belajar) menekankan pentingnya keterampilan dan pengetahuan akademis yang emphiris sebagai hasil kajian sains, serta perilaku sosial sebagai hasil belajar.
Menurut Power (Uyoh Sadulloh, 2006 : 117) beberapa implikasi pendidikan Positivisme Behaviorisme yang bersumber pada filsafat Materialisme sbb :
1. Tujuan Pendidikan; Perubahan perilaku mempersiapkan manusia sesuai dengan kapasitasnya untuk tanggung jawab hidup sosial dan pribadi yang kompleks.
2. Kedudukan Siswa; Tidak ada kebebasan perilaku oleh kekuatan dari luar. Pelajaran sudah dirancang siswa dipersiapkan untuk hidup mereka dan dituntut untuk belajar.
3. Peranan Guru; Guru memiliki kekuasaan untuk merancang dan mengontrol proses pendidikan. Guru dapat mengukur kualitas dan karakter hasil belajar siswa.
4. Kurikulum; Isi pendidikan mengcakup pengetahuan yang dapat dipercaya dan diorganisasi, selalu berhubungan dengan sasaran perilaku.
5. Metode; Semua pelajaran dihasilkan dengan kondisionisasi ( Conditioning ) , operant conditioning, reinforcement, pelajaran berprogram dan kompetensi.
4. Pragmatisme
Filsafat Pragmatisme dikenal juga dengan nama Progresivisme. Menurut Made Pidarta (2000 : 91) Pragmatisme / Progresivisme mempunyai jiwa perubahan, relativitas, kebebasan, dinamika, ilmiah dan perubahan nyata. Menurut filsafat ini tidak ada tujuan yang pasti dan tidak ada kebenaran yang pasti. Tujuan dan kebenaran itu bersifat reaktif. Apa yang sekarang dipandang benar belum tentu karena ditinjau dalam kehidupan, tahun depan belum tentu dianggap benar. Ukuran kebenaran adalah yang berguna bagi manusia. Pandangan tentang pengetahuan filsafat ini yakni bahwa akal manusia aktif dan selalu ingin meneliti, tidak pasif dan tidak begitu saja menerima pandangan tertentu sebelum dibuktikan secara emphiris. Pengetahuan sebagai transaksi antara manusia dengan lingkungan dan kebenaran merupakan bagian dari pengetahuan. Pengalaman senantiasa berubah, maka akal tidak memerlukan pengetahuan yang tetap dan abadi. Pragmatisme mengajarkan bahwa tujuan semua berpikir pada kemajuan hidup. Filsafat ini juga berpandangan bahwa metoda intelegensi merupakan cara ideal untuk memperoleh pengetahuan. Kita mengerti segala sesuatu dengan penempatan dan pemecahan masalah. Intelegensi mengajukan hipotesis untuk memecahkannya. Hipotesis yang mampu memecahkan masalah secara gemilang adalah hipotesis yang menjelaskan fakta-fakta dari masalah tersebut. Pandangan filsafat Pragmatisme tentang pendidikan yang dikemukakan oleh John Dewey didasarkan pada 3 (tiga) pokok pemikiran :
1. Pendidikan merupakan kekuatan untuk hidup
2. Pendidikan sebagai pertumbuhan
3. Pendidikan sebagai fungsi sosial ( Uyoh Sadulloh, 2006 : 125 ) Power (1982) Uyoh Sadulloh (2006 : 133) mengemukakan implikasi filsafat pendidikan Pragmatisme terhadap pelaksanaan pendidikan sebagai berikut :
1. Tujuan pendidikan; Memberikan pengalaman untuk penemuan hal-hal baru dalam hidup sosial dan pribadi.
2. Kedudukan Siswa; Suatu organisme yang memiliki kemampuan yang luar biasa dan kompleks untuk tumbuh. Dan untuk mempercepat proses perkembangan ditekankan juga prinsip mendisiplinkan diri sendiri, sosialisasi dan demokratisasi.
3. Peranan Guru; Mengawasi dan membimbing pengalaman belajar siswa tanpa mengganggu minat dan kebutuhannya.
4. Kurikulum; Berisi pengalaman yang teruji dan dapat diubah. Minat dan kebutuhan siswa dapat menentukan kurikulum. Menghilangkan perbedaan antara pendidikan liberal dan pendidikan praktis atau pendidikan jabatan. Selanjutnya menurut Made Pidarta (2000 : 92) kurikulum pragmatis adalah kehidupan itu sendiri, artinya kurikulum tidak dibatasi pada hal-hal yang bersifat akademis.
5. Metode; Metode aktif yakni Learning by Doing ( belajar sambil bekerja ).
5. Eksistensialisme
Menurut Callahan , Made Pidarta (2000 : 92) bahwa kenyataan atau kebenaran adalah ekstensi atau adanya individu manusia itu sendiri. Manusia adalah bebas akan menjadi apa orang itu ditentukan oleh komitmennya sendiri. Seseorang akan menjadi tahu tentang sesuatu melalui pengalaman. Hal ini tergantung pada tingkat kesadaran masing-masing untuk mencari pengalaman. Sedangkan menurut S. Nasution ( 1988 ) filsafat ini menekankan individu sebagai faktor dalam menentukan apa yang baik dan benar. Norma-norma hidup ditentukan oleh individu masing-masing secara bebas. Tujuan hidup adalah menyempurnakan diri atau merealisasikan diri. Pendidikan menurut filsafat ini bertujuan mengembankan kedewasaan individu, memberikan kesempatan untuk bebas memilih etika, mendorong perkembangan pengetahuan diri sendiri. Materi pelajaran harus memberi kesempatan aktif sendiri. Merencanakan dan melaksanakan sendiri baik secara mandiri maupun kelompok. Materi yang dipelajari ditentukan kepada kebutuhan langsung dalam kehidupan manusia.
Menurut Power, Uyoh Sadulloh (2006 : 135) mengemukakan implikasi pendidikan pada filsafat Ektensialisme terhadap pelaksanaan pendidikan yaitu :
1. Tujuan Pendidikan; Mendorong individu mengembangkan potensi untuk pemenuhan diri
2. Kedudukan Siswa; Peserta didik perlu mendapatkan pengalaman sesuai dengan perbedaan individu mereka.
3. Peran Guru; Memberikan semangat dan membimbing siswa. Guru harus bersifat demokratis dengan teknik mengajar tidak langsung.
4. Kurikulum; Memberi kebebasan siswa dan meningkatkan kepekaan personal. Materi yang dipelajari ditentukan kepada kebutuhan langsung dalam kehidupan manusia.
5. Metode; Proses belajar mengajar dialok antara siswa, serta teknik belajar experiment di problem solving ( pemecahan masalah ).

6. Progresivisme
Filsafat ini sebenarnya bukan suatu bangunan filsafat atau aliran filsafat melainkan suatu gerakan atau perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918. Pandangannya tentang pengetahuan adalah bahwa pengetahuan yang benar untuk masa kini yang benar belum tentu benar pada masa mendatang. Makanya cara yang terbaik untuk mempersiapkan siswa untuk suatu masa depan yang tidak diketahui adalah membekali mereka dengan strategi-strategi pemecahan masalah yang memungkinkan mereka mengatasi tantangan-tantangan baru dalam kehidupan dan untuk memenuhi yang relevan pada saat ini. Cara memperoleh pengetahuan yang benar sepakat dengan pandangan Dewey yaitu menekankan pengamatan indera, belajar sambil bekerja dan mengembangkan intelegensia, sehingga anak dapat menemukan ( memecahkan masalah ) yang dihadapi.
Menurut Kheller (1971) ada beberapa prinsip pendidikan menurut pandangan Progresivisme diantaranya :
1. Pendidikan adalah hidup itu sendiri, bukan persiapan untuk hidup, kehidupan yang baik adalah kehidupan intelegensia, yaitu kehidupan yang mengcakup interpretasi dan rekonstruksi pengalaman.
2. Pendidikan harus berhubungan secara langsung dengan minat anda, individu yang dijadikan sebagai dasar motivasi belajar.
3. Belajar melalui pemecahan masalah akan menjadi pertimbangan terhadap pemberian pokok masalah ( subject Matter ) . Belajar harus dapat memecahkan masalah yang penting dan bermanfaat bagi kehidupan anak.
4. Peranan guru tak langsung melainkan memberikan petunjuk kepada siswa.
5. Sekolah harus memberikan semangat bekerja sama, bukan mengembangkan persaingan.
6. Kehidupan yang demokratis merupakan kondisi yang diperlukan bagi pertumbuhan (Uyoh Sadulloh, 2006 : 149). Menurut Peter F Oliva (1995 : 200) berpendapat sikat Progresivisme yang menyatakan bahwa anak harus memahami pengalaman pendidikan di sini dan sekarang, mempunyai filosofi bahwa pendidikan adalah hidup dan belajar dengan melakukan sesuatu. Pada Progresivisme mendorong sekolah agar menyediakan pelajaran kepada setiap individu yang berbeda baik dalam mental, fisik, emosi, spiritual dan perbedaan status sosial.
Implikasi filsafat Progresivisme terhadap perkembangan pendidikan adalah :
1. Tujuan Pendidikan; Memberikan keterampilan dan alat-alat yang bermanfaat untuk berinteraksi dengan lingkungan yang berada dalam proses perubahan secara terus menerus.
2. Kedudukan Siswa; Pengalaman anak adalah rekonstruksi yang terus menerus dari keinginan dan kepentingan pribadi. Mereka aktif bergerak untuk mendapatkan isi mata pelajaran yang logis.
3. Peran Guru; Peranan guru adalah membimbing siswa dalam kegiatan pemecahan masalah dan kegiatan proyek. Guru menolong siswa dalam menentukan dan memilih masalah-masalah yang bermakna, menemukan sumber-sumber data yang relevan, menilai akurasi data, serta merumuskan kesimpulan.
4. Kurikulum; Disusun berdasarkan pengalaman siswa, baik pengalaman pribadi, maupun pengalaman sosial.
7. Perenialisme
Perenialisme lebih menekankan pada keabadian, kebenaran dan keindahan daripada warisan budaya dan dampak sosial tertentu. Pengetahuan dianggap lebih penting dan kurang memperhatikan kegiatan sehari-hari. Aliran ini lebih berorientasi ke masa lalu. Oliva F Peter (1995 : 195) mengatakan bahwa kurikulum sebuah akademik dengan tata bahasa, retorika, logika, bahasa lama dan baru, matematika dan peradaban dunia.Implikasi filsafat Perenialisme akan dunia pendidikan di antaranya :
1. Tujuan Pendidikan; Memastikan bahwa para siswa memperoleh pengetahuan tentang prinsip-prinsip atau gagasan-gagasan besar yang tidak berubah. Penekanannya kepada kemampuan hipotesis rasional manusia.
2. Kedudukan Siswa; Dapat menekankan pada pertumbuhan intelektual dengan mempelajari bidang-bidang seni dan sains
3. Peran Guru; Agar menekankan pemikiran yang benar.
4. Kurikulum; Menciptakan manusia terpelajar secara kultur melalui seni dan sains. Menekankan pertumbuhan intelek dengan luteratur sekolah dan karya besar para ahli.


8. Esensialisme
Filsafat Esensialisme memiliki beberapa kesamaan dengan Perenialisme. Filsafat ini lebih menekankan pentingnya pewarisan budaya dan pemberian pengetahuan serta keterampilan kepada peserta didik, agar dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna. Matematika sains dan mata pelajaran lainnya dianggap sebagai dasar-dasar substansi kurikulum yang mempersiapkan manusia untuk hidup di masyarakat.
Oliva F Peter (1995 : 197) menyatakan bahwa bentuk pokok kurikulum adalah sebuah rencana essensial tentang organisasi kurikulum dan teknik-teknik pembagian pelajaran, dengan les sebagai metodenya. Karya ilmiah yakni merupakan kemampuan mendaur ulang apa yang telah dipelajari, merupakan nilai yang tertinggi, pendidikan diawasi di bagian persiapan menerapkan maksud pendidikan, seperti pengawasan terhadap lapangan kerja dan kehidupan. 
Implikasi filsafat Esensialisme terhadap pelaksanaan pendidikan adalah :

1. Tujuan Pendidikan; Tujuan pendidikan adalah meneruskan warisan budaya dan sejarah melalui pengetahuan inti yang terakumulasi dan telah bertahan dalam kurun waktu yang lama, serta merupakan suatu kehidupan.
2. Kedudukan Siswa; Sekolah bertanggung jawab atas pemberian pelajaran yang logis atau dapat dipercaya . Sekolah berkuasa untuk menuntut hasil belajar siswa. Siswa pergi ke sekolah untuk belajar bukan untuk mengatur pelajaran.
3. Peranan Guru; Guru harus terdidik secara moral, ia merupakan orang yang dapat dipercaya dan secara teknis harus memiliki kemakhiran dalam mengesahkan proses belajar.
4. Kurikulum; Di pendidikan dasar, membaca, menulis dan berhitung. Keterampilan berkomunikasi adalah essensial untuk mencapai prestasi skolastik dan hidup sosial yang layak. Kurikulum sekolah berisikan apa yang harus diajarkan.
5. Metode; Metoda tradisional menekankan pada inisiatif guru
6.  Rekonstruksisme
Merupakan kolaborasi lanjutan dari aliran Progresivisme. Pada Rekonstruksisme peradaban manusia masa depan sangat ditekankan. Disamping menekankan tentang perbedaan individu juga penekanannya pada pemecahan masalah dan berpikir kritis.
Power, Ulyo Sadollah (2006 : 171) mengemukakan implikasi filsafat Rekonstruksisme di dalam pendidikan adalah :
1. Tema; Pendidikan merupakan usaha sosial. Misi sekolah adalah untuk meningkatkan rekonstruksi sosial.
2. Tujuan Pendidikan; Pendidikan bertanggung jawab dan menciptakan aturan sosial      yang ideal. Transmisi budaya adalah essensial dalam masyarakat yang majemuk. Transmisi budaya harus mengenal fakta budaya yang majemuk terebut.
3. Kedudukan Siswa; Nilai-nilai budaya siswa dibawah ke sekolah merupakan hal yang berharga. Keluhuran pribadi dan tanggungjawab sosial ditingkat merekalah rasa hormat diterima semua latar belakang budaya.
4. Peran Guru; Guru harus mewujudkan rasa hormat yang sejati terhadap semua budaya. Baik dalam memberi pelajaran maupun dalam hal lainnya. Pelajaran sekolah harus mewakili budaya masyarakat.
5. Kurikulum; Kurikulum sekolah tidak boleh di dominasi oleh budaya mayoritas maupun oleh budaya yang ditentukan atau disukai. Semua budaya dan nilai-nilai yang berhubungan berhak untuk mendapatkan tempat dalam kurikulum.
6. Metode; Sebagai kelanjutan dari pendidikan progresif metode aktivitas (learning by Doing). Dari aliran-aliran filsafat tersebut di atas, masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan, oleh karena itu dalam praktek pengembangan kurikulum penetapan aliran filsafat cenderung dilakukan secara efektif untuk lebih mengkompromikan dan mengakomodasikan berbagai kepentingan yang terkait dengan pendidikan.Kemudian aliran filsafat Perenialisme, Esensialisme, Eksistensialisme dan Idealisme merupakan aliran filsafat yang mendasari model kurikulum subjek akademis, sedangkan filsafat Progresivisme, Pragmatisme memberikan dasar bagi pengembangan kurikulum. Model kurikulum, pendidikan pribadi/kompetensi sedangkan Rekonstruksisme banyak diterapkan dalam pengembangan model kurikulum berbasis kompetensi. Khusus di negara kita tampaknya mulai terjadi pergeseran landasan dalam pengembangan kurikulum, yakni lebih menitik beratkan pada filsafat Rekonstruksisme.

B. Falsafah Pendidikan Nasional
Pengembangan di bidang pendidikan didasarkan atas falsafah Negara Pancasila. Pendidikan Nasional sebagai bagian dari usaha pembangunan nasional, merupakan usaha yang sangat penting dalam membentuk manusia indonesia seutuhnya seperti yang dicita-citakan. Oleh karena itu sistem Pendidikan Nasional harus berdasarkan Pancasila dan ditujukan ke arah pembentukan manusia Pancasialistis.
Oleh karena itu maka kita dapat menarik suatu kesimpulan bahwa : Falsafah Pancasila pada hakekatnya merupakan falsafah pendidikan dalam sistem Pendidikan Nasional.

C. Tujuan Pendidikan
Tujuan kurikulum adalah tujuan yang hendak dicapai setiap program pendidikan dan pembelajaran. Tujuan kurikulum merupakan program tujuan pendidikan pada umumnya dan tujuan kelembagaan pada khususnya yang dirumuskan secara bertahap, berjenjang dan berkesinambungan. Menurut Oemar Hamalik (2007,129) mengemukakan pendidikan bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik yang mengcakup pengetahuan (kognitif) sikap (efektif) keterampilan (skill) perilaku hasil tindakan, serta pengalaman exploratis (pengalaman lapangan).
Tujuan Pendidikan dapat digambarkan sebagai berikut :


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar